Suatu Malam bersama Mas Indro Warkop

9 06 2009

indrowarkopMalam yang sejuk sejak hujan yang sangat deras disertai badai petir mengguyur Jakarta dan menyebabkan banjir di beberapa ruas jalan. Ane baru saja tiba di Taman Suropati Menteng Jakarta Pusat untuk janjian bertemu dengan bro Rio.

Kami berencana mengunjungi Mas Indro Warkop, seorang yang berpengalaman dalam bidang otomotif. Beberapa agenda diantaranya mengajak bro Indro untuk aktif di dalam kegiatan RSA dengan porsi jabatan yang kami tawarkan.

Dua Harley-Davidson Electra Police dan satu Yamaha XJ 900-P tampak baru saja diparkirkan oleh anggota Polisi Militer yang juga menjadikan Taman Suropati sebagai titik kumpul. Sambil memutar otak tentang spareparts apa dari XJ 900-P yang bisa ane kanibal untuk si Bumblebee yang sedang “operasi plastik” di rumah, ane tergoda untuk menyantap nasi goreng yang lewat.

Selesai makan dan kebetulan bro Dito yang ditunggu sudah datang, maka kami bertiga segera group riding membelah kemacetan lalu lintas menuju ke bilangan Pulomas, rumah kediaman Mas Indro.

Tiba di sana kami disambut oleh managernya, bro Andry yang sudah mengatur waktu untuk mempertemukan kami dengan Mas Indro malam ini. Rupanya Mas Indro masih dalam perjalanan pulang dari lokasi shooting sebuah sinetron.

Habis segelas teh hangat suguhan, Mas Indro datang bersama beberapa kawan. Bayangan akan wajah arogan dan tidak bersahabat dari pengendara motor besar mendadak hilang, berganti dengan kekaguman akan wajah cerianya yang dengan ramah menyambut kami dan mempersilakan kami masuk.

Obrolan dibuka dengan ulasan singkat dari bro Rio mengenai RSA (www.rsa.or.id) yang akhirnya berlanjut menajam menuju sebuah topik yang tanpa sengaja menggugah minat Mas Indro mengenai kultur/budaya yang menjadi sangat sulit diubah di masyarakat yaitu “membiasakan yang tidak biasa”. Kami sepakat dengan pernyataan Mas Indro bahwa taraf berpikir sebagian besar bangsa kita masih dalam scope (jangkauan) kuantitatif, bukan kualitatif. Itu pun hanya berlaku bagi mereka yang masih bisa berpikir.

Lebih spesifik lagi dan semakin mengerucut ke permasalahan Road Safety, Mas Indro mulai menceritakan pengalaman ridingnya yang berawal dari kecintaan ayahnya pada motor Harley-Davidson dan sebuah kenangan indah bersama ayahnya yang membuatnya turut jatuh cinta dengan motor besar ini. Ia berkisah ketika motor yang dikendarai sang ayah menabrak kolom kayu hingga merubuhkan genteng yang hampir saja menimpa dirinya. Sang ayah langsung melindunginya dan ketika itu Mas Indro kecil teringat bahwa ayahnya tetap berdiri, demikian juga Harley-Davidson.

Sesuai dengan profesi Mas Indro sebagai entertainer, Bro Edo kemudian membahas pembentukan kultur masyarakat melalui media praktis yang bernama sinetron. Begitu banyak adegan menyimpang yang berakibat pada edukasi bawah sadar pemirsanya yang kemudian tercermin di attitude di jalan raya. Usut punya usut ternyata si aktor melakukannya atas tuntutan skenario. Lebih lanjut lagi skenario dibuat oleh orang-orang yang tidak memiliki idealisme positif dan hanya tunduk kepada kapitalisme belaka alias rating.

Topik berlanjut kepada upaya penegakan hukum. Mas Indro mulai bercerita tentang manset polisi (bahan tekstil berwarna putih-biru yang digunakan Polantas di pergelangan tangannya untuk mengatur lalu lintas). Ia mengatakan bahwa begitu seorang Polantas mengenakan manset tersebut dan memberikan perintah atau aba-aba, maka secara otomatis rambu lalu-lintas menjadi tidak berlaku dan Polantas tersebut menjadi objek tertinggi yang harus dipatuhi. Hal ini lazim disebut “diskresi”.

Celakanya diskresi yang terlalu sering dilakukan menyebabkan masyarakat membudayakan “membiasakan yang tidak biasa”. Berhenti di depan garis putih pembatas jalan di setiap persimpangan lampu merah menjadi sebuah pemandangan khas di Jakarta. Dimana pengendara yang berhenti di belakang garis putih justru kerap dicap tidak waras dan mendapat caci maki. Sungguh terlalu.

Hal ini juga tidak lepas dari kinerja kepolisian, bro Rio menceritakan pengalamannya bertemu dengan polisi yang sudah terlalu malas menertibkan lalu-lintas. Mas Indro yang besar di keluarga kepolisian ini segera berargumen bahwa Polisi tidak berhak menuntut haknya kepada masyarakat. Mereka wajib berlaku seperti robot dan melaksanakan perintah demi mencapai sasaran kelancaran dan ketertiban lalu-lintas.

Penegakan hukum di Indonesia belum maksimal, ditambah lagi edukasi peningkatan skill dan attitude berkendara. Ia mencontohkan kasus motor besar masuk tol, dalam kasus ini hukum terbukti dapat dibengkokkan oleh oknum yang “kebal” hukum. Terbukti bahwa edukasi ini diperlukan oleh semua kalangan.

Ia kemudian menceritakan anekdot tentang rambu bertuliskan “belok kiri boleh langsung”. Berarti seorang pengendara boleh berhenti di lajur kiri untuk menunggu lampu hijau. Kata “boleh” ini tidak mengandung makna hukum dan cenderung menimbulkan kerancuan yang kerap menjadi objek tilang aparat. Demikian halnya dengan rambu “belok kiri jalan terus”…”lah apapula ini, mau belok kiri kok malah disuruh terus?”. Demikian tandasnya.

Obrolan makin seru ketika Mas Indro bercerita tentang suka-dukanya di dunia otomotif. Ia menjadi saksi evolusi pengguna motor besar yang dulu lebih banyak berasal dari kalangan bawah yang “sehidup semati” di motor hingga masa kini dimana motor besar mengalami penurunan makna menjadi sebuah prestise yang tidak penting, dimana kepemilikannya seringkali tidak diimbangi dengan skill, attitude dan pemahaman peraturan lalu-lintas. Bagi Mas Indro prestise tidak berarti. Kepuasan batin lebih berarti dan lebih mahal ketimbang kepuasan materi.

Ia memiliki SIM C dan B1 pada umur 17 tahun dan pertama kali belajar mengemudi dengan mobil van Bedford. Ia sempat menjalani Safety Riding Course di Amerika, menjadi instruktur Brigade Motor, diundang untuk melakukan training di beberapa perusahaan serta memrakarsai berdirinya komunitas Harley-Davidson di Indonesia.

Kembali membahas road safety, beberapa hal yang ia lakukan untuk memasyarakatkan road safety ia mulai dari keluarga, contohnya dengan membiasakan hal yang benar ke anak-anaknya. Ia juga membiasakan hidup sehat untuk mendukung kegiatan berkendara. Salah satunya dengan berhenti merokok. “rokok itu buatan manusia dan manusia adalah buatan Tuhan, jadi jangan kalah dengan buatan manusia”. Sebuah nasihat yang mungkin berguna bagi kawan-kawan perokok.

Malam semakin larut. Hasil obrolan seru kami berujung pada fakta bahwa ternyata visi dan misi RSA sejalan dengan kepedulian Mas Indro terhadap keselamatan lalu-lintas. Selanjutnya tentu saja kami berharap semoga Mas Indro dapat ikut serta dalam keluarga besar RSA.

oleh : benny the great


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: