Perilaku Berkendara, Citra Pribadi Muslim

24 08 2009

raziakedungcowek1Bulan Ramadhan ini adalah bulan yang penuh dengan cobaan dan godaan. Dalam bulan ini, kita sebagai umat muslim dituntut untuk dapat mengendalikan hawa nafsunya, termasuk hawa nafsu pada saat berkendara, apalagi berkendara di jalan-jalan ibukota Jakarta yang terkenal dengan kesemrawutan dan kemacetannya.

Beberapa waktu yang lalu, ALiF menggelar jajak pendapat kecil mengenai lalu lintas Jakarta. Hasilnya, semua responden punya pendapat yang seragam, lalu lintas Jakarta sudah sedemikian macet dan semrawut, bahkan ada yang mengatakan kejam.

Memang, jika diamati, hampir tak ada jalan di Jakarta yang terbebas dari masalah-masalah tersebut [kemacetan dan kesemrawutan]. Apalagi di jam-jam sibuk, kendaraan sangat padat, hampir tak bisa bergerak. Inilah konsekuensi dari perkembangan kota besar seperti Jakarta.

Sebagai pusat bisnis dan pemerintahan yang terbesar di Indonesia, Jakarta menjadi tujuan utama para pencari kerja. Setiap tahun, selalu saja ada pendatang baru yang ingin ikut berebut lapangan kerja di Jakarta. Ada yang menetap menjadi penduduk Jakarta, ada juga yang tinggal di kota-kota sekitar Jakarta. Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi DKI Jakarta, jumlah penduduk Jakarta saat ini lebih dari 8,5 juta jiwa. Jumlah tersebut akan bertambah pada siang hari karena banyak orang yang masuk ke Jakarta untuk bekerja.

Aktivitas penduduk Jakarta yang tinggi, ditambah dengan pergerakan keluar masuknya penduduk dari kota-kota sekitar Jakarta, menyebabkan lalu lintas Jakarta menjadi sangat padat. Jalan-jalan tak pernah sepi dari lalu-lalang kendaraan. Jalan tol yang semula dimaksudkan sebagai jalan bebas hambatan, ternyata juga macet karena saking banyaknya pengguna jalan.

Masalah lalu lintas sepertinya akan terus dialami warga Jakarta. Beberapa studi mengatakan, kepadatan lalu lintas di Jakarta menunjukkan tren yang meningkat. Survei Arterial Road System Development Study [ARSDS] pada tahun 1985 mencatat, sebanyak 13 juta perjalanan [trip] dilakukan warga di Jakarta setiap hari. Pada tahun 2002 survei yang sama dilakukan oleh Study on Integrated Transportation Master Plan [SITRAMP]. Hasilnya, terjadi peningkatan 30 persen, menjadi 17 juta trip setiap hari.

Bagaimana dengan sekarang? Melihat dari pertumbuhan jumlah kendaraan di Jakarta yang mencapai angka 11 persen per tahun, sementara pertambahan infrastruktur jalan yang kurang dari 1 persen, jumlah trip sekarang akan lebih besar dari 17 juta per hari.

Tentu, apabila tak ada usaha untuk mengatasi masalah lalu lintas ini, Jakarta akan menghadapi masalah yang sangat besar di masa yang akan datang. Sebuah penelitian yang dilakukan Japan International Corporation Agency [JICA] dan The Institute for Transportaion and Development Policy [ITDP] menunjukkan gambaran itu. Jika tak ditemukan pemecahan masalah lalu lintas itu, maka lalu lintas Jakarta akan mati pada tahun 2014 nanti.

Perilaku Lalu Lintas yang Buruk
Kondisi lalu lintas Jakarta yang padat diperparah dengan perilaku yang buruk dari para pengguna jalan. Jajak pendapat ALiF di atas juga merekam perilaku buruk yang ditemui para responden saat berkendara di jalan. Cukup banyak perilaku buruk itu, antara lain: ugal-ugalan saat berkendara, berpindah jalur tanpa memberi tanda, berhenti mendadak, menggunakan jalur yang tak semestinya, berhenti di tempat yang terlarang, dan masih banyak lagi.

Banyaknya perilaku buruk yang diungkapkan responden tersebut, senada dengan data dari Kepolisian Daerah Metro Jaya. Selama tahun 2008, tercatat ada 272 ribu pelanggaran lalu lintas yang terjadi di Jakarta dan kota-kota di sekitarnya.

Angka tersebut sangat menguatirkan karena pelanggaran lalu lintas bisa berujung pada kecelakaan. Dari 272 ribu pelanggaran lalu lintas itu, tercatat sebanyak 5.898 pelanggaran mengakibatkan kecelakaan. Sebagian besar kecelakaan itu melibatkan sepeda motor. Akibatnya, lebih dari seribu orang meninggal dunia, 2.567 orang luka berat, dan hampir 5.000 orang luka ringan.

Benarkah, perilaku buruk berkendara berakibat pada kecelakaan lalu lintas? Yohannes Lulie dan John Tri Hatmoko membuktikannya. Mereka adalah staf pengajar Program Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Dalam penelitiannya, kedua dosen tersebut menemukan bahwa kecelakaan lalu lintas banyak terjadi pada pengguna jalan yang masuk dalam kategori perilaku buruk. Jumlah kecelakaan lebih kecil pada kategori perilaku sedang, dan terkecil pada kategori perilaku baik.

Penelitian tersebut juga mengungkapkan tiga perilaku terburuk yang mengakibatkan kecelakaan lalu lintas terbanyak. Perilaku buruk tersebut adalah tak menjaga jarak dengan kendaraan di depannya, berkendara dengan ugal-ugalan, dan memacu kendaraan dengan kecepatan maksimum.

Citra Umat Muslim
Terkait dengan banyaknya perilaku buruk berlalu-lintas, kita sering mendapat sindiran. Indonesia, sebagai negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, termasuk ke dalam kelompok negara dengan perilaku berlalu-lintas yang buruk. Seolah-olah, predikat Muslim yang melekat pada sebagian besar penduduk Indonesia itu tak punya arti sedikit pun. Padahal, sangat sering kita mengatakan bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, termasuk rahmat bagi pengguna jalan yang lain.

Memang, secara khusus, tak ada ajaran Islam yang mengatur bagaimana seorang Muslim berperilaku saat berkendara. Namun, ada prinsip-prinsip dasar dalam Islam yang apabila ditaati akan menimbulkan sikap dan perilaku yang baik dalam berlalu-lintas.

Termaktub dalam al-Qur’an nasihat-nasihat Luqman kepada anaknya. Nasihat-nasihat itu pada hakikatnya juga nasihat untuk seluruh umat Islam. Salah satu nasihat itu adalah “Dan janganlah engkau memalingkan pipimu dari manusia dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” [QS Luqman [31]: 18].

Perilaku ugal-ugalan saat berkendara merupakan salah satu bentuk kesombongan dan sikap tak acuh terhadap pengguna jalan yang lain. Memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi dengan tujuan agar cepat sampai ke tujuan adalah sikap mementingkan diri sendiri. Tak peduli apakah dengan perilakunya itu ia mendatangkan celaka bagi orang lain, bahkan dirinya sendiri. Perilaku-perilaku tersebut tak sesuai dengan semangat yang disampaikan dalam Surah Luqman di atas.

Padatnya lalu lintas di jalan raya menuntut pengguna jalan untuk sabar dan menaati rambu-rambu yang ada. Sabar dan tak tergesa-gesa merupakan sifat mulia yang diajarkan Rasulullah Saw. Beliau bersabda, “Sesungguhnya dalam dirimu terdapat dua sifat yang dicintai Allah, yaitu sabar dan tidak tergesa-gesa” [HR. Bukhari dalam al-Adabul al-Mufrad no. 586. Syekh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini shahih].

Dalam hadis lain, Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya aku diutus ke dunia hanyalah untuk menyempurnakan akhlak” [HR. Ahmad]. Akhlak yang sempurna mencerminkan tingginya moral dan nilai-nilai kemanusiaan, termasuk di dalamnya menghormati, menyayangi, dan menghargai orang lain, tak menindas yang lemah, mendahulukan yang lebih berkepentingan, serta berlaku sopan santun. Kekerasan, kesombongan, ketidaktertiban, ugal-ugalan, dan kezaliman, berlawanan dengan akhlak yang sempurna itu.

Friday Readers, mari kita tunjukkan bahwa sebagai seorang Muslim, kita memiliki akhlak yang baik dan sempurna. Salah satunya dengan berperilaku yang baik dan santun ketika berkendara di jalan. Semoga bermanfaat .

(Imam) alifmagz.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: